CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Tuesday, July 6, 2010

Marahlah Pada Tempatnya

Waktu aku kecil, Papa pernah bercerita tentang kakek-nenekku. Aku tidak sempat bertemu mereka karena sudah berpulang menghadap Yang Di Atas sebelum aku lahir. Papa bilang, kakek-nenekku (aku memanggil mereka Opung) adalah orang yang sangat baik, yang tidak pernah marah. Senang mendengarnya, karena aku tidak suka mendengar Mamaku marah-marah apalagi namanya anak-anak sukanya bermain, melakukan apapun dengan bebas, tidak suka diomeli apalagi dimarahi. Terbayang olehku betapa beruntungnya Papa mempunyai mama dan papa seperti Opung.

Lalu aku menceritakan hal itu pada Mama. Mama bilang wajar saja Papa bercerita seperti itu karena yang namanya anak akan selalu menganggap baik orang tuanya. Mama juga akan mengatakan hal yang sama tentang orang tua Mama padaku (aku memanggil mereka Eyang). Bedanya, Eyang pernah marah dan tidak pernah tidak marah. "Kalau salah ya dimarahin," begitu kata Mama.


Sampai aku tumbuh besar, aku sering berharap Mama tidak marah-marah atau setidaknya tidak sering marah padaku dan adik-adikku. Kalau sudah marah, kuping rasanya gatel karena Mama teruuuusss mengomel dan baru akan reda sampai batas waktu yang tak pasti, huff!

Namun semakin aku menjalani hidup, semakin melihat lingkungan sekitar, aku jadi mulai meralat pikiranku bahwa marah adalah hal yang tidak baik. Selama ini aku tahu bahwa kita perlu dimarahi jika kita salah, dan sekarang aku lebih sadar bahwa marah bukan sekedar untuk memberitahu bahwa kita telah salah melakukan sesuatu, tapi lebih ke pembentukan karakter.

Aku kenal dengan seorang anak kecil yang lucu dan bijak, sebut saja namanya Baby. Dia tanggap dengan keadaan di sekitarnya. Kalau diajak ngomong sudah seperti orang dewasa. Gemes! Tapi kalau sudah ngadat, Baby berubah menjadi anak kecil yang menyebalkan. Biasanya dia akan ngadat kalau keinginannya tidak dipenuhi. Jika sudah begitu, Baby akan mengamuk sampai orangtuanya memberi apa yang diinginkannya.

Awalnya aku pikir wajar anak kecil ngadat seperti itu. Tapi lama-lama aku pikir kesalahan bukan pada Baby. Setiap kali ia ngadat, ia tidak pernah diregur oleh orangtuanya untuk tidak bersikap kasar seperti itu. Ia tidak pernah diberi pengertian kenapa sampai keinginannya tidak dipenuhi. Orangtuanya malah membujuk-bujuk agar Baby tidak merengek lagi lalu mengusahakan keinginan Baby terpenuhi.

Aku juga kenal dengan seorang perempuan, yah sebenarnya dia teman lamaku, namanya, mm, sebut saja Julia. Orangtuanya yang perempuan bekerja sebagai karyawan rumah sakit, dan orangtuanya yang laki-laki bekerja sebagai tukang kebun. Karena kami seumuran, kami sering main bersama walaupun beda sekolah. Barang-barangku sering aku pinjamkan padanya agar kami terlihat kompak. Tapi yang ada aku dimarahi Mama (hiks, dimarahi lagi). Julia anak yang pintar, ia sering menjadi juara kelas. Hingga suatu hari ibunya datang kepada Mama meminta sejumlah uang untuk membelikan Julia tas baru sebagai hadiah kenaikan kelas.

"Ibunya Julia datengin Mama dan bilang mau minta uang untuk beliin Julia tas," kata Mama saat itu padaku. "Mama kasih uangnya, terus besoknya Mama tanya ibunya, jadi beli tas yang gimana, berapa harganya," lalu lanjut Mama lagi, "Julia dibelikan tas harga 30 ribu."

Aku kaget mendengar harga tas yang dibelikan, karena harga 30 ribu untuk ukuran jaman dulu sudah sangat mahal sekali. "Padahal," kata Mama, "Mama ngasi uang ke ibunya Julia ya 30 ribu. Maksud Mama, kenapa gak dihemat, jangan sampe pas-pasan, kan bisa disimpen untuk beli yang lain."

"Mama kasihan sama ibunya Julia, demi beliin keperluan anaknya sampe rela kesana-sini ngusahain uang. Waktu Mama tanya kenapa gak nyari yang lebih murah, katanya pengen ngasi yang bagus buat Julia."

Di satu sisi, aku merasa wajar ibunya Julia ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Aku malah sempat terpikir kenapa Mama seperti tidak suka Julia diberi yang terbaik. "Tapi Julia juga harus mengerti keadaan orangtuanya," kata Mama lagi.

Mungkin saat itu aku masih terlalu polos menilai sesuatu, tapi beberapa tahun kemudian, apa yang Mama katakan aku rasakan benar. Julia tumbuh jadi anak yang berperasaan, Julia berlagak high class dengan ibunya yang selalu mengusahakan memenuhi keperluannya kesana-kemari. Dan parahnya, niat baik Papaku untuk menyekolahkan Julia disia-siakan. Belum sampai sebulan Julia sekolah, ia minta pindah karena tidak betah. Ia tidak bisa jauh dengan pacarnya. Terlalu! Ia lebih memilih menyusahkan orangtuanya menyekolahkannya, padahal saat itu ibunya tengah dalam proses cerai dengan ayahnya. Namun ibunya tidak pernah menegur Julia. Ibunya justru mencoba memberi pengertian terhadap Julia yang tidak bisa jauh dari pacarnya. Oh, tidak!

Aku juga kenal dengan seorang ibu yang suka menyiksa pembantunya. Pembantunya itu memang bodoh dan tidak melawan. Ia sering diolok-olok dikatakan bodoh dan bekerja sampai malam. Jika ia mengantuk, kakiknya akan disulut obat nyamuk bakar. Namun suami ibu tersebut tidak pernah menegur, malah mungkin menganggap pembantu itu layak diperlakukan demikian. Si ibu semakin menjadi-jadi dan bangga jika ia mengolok-olok pembantunya di depan tamu-tamunya.

Banyak lagi kasus-kasus lain yang membuatku semakin mengerti bahwa marah adalah suatu sikap yang positif. Dari cerita-ceritaku tadi, dapat diambil kesimpulan bahwa marah tidak hanya akan menyadarkan seseorang atas kesalahan yang diperbuatnya, namun juga dapat membantu perkembangan watak seseorang.

Seandainya pola didikan Baby oleh orangtuanya tidak segera diubah, bisa diperkirakan Baby akan tumbuh menjadi anak yang keras kepala, keras hati, egois, kasar, jika keinginannya tidak dipenuhi atau jika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya. Seorang Julia tidak akan pernah sadar dimana ia berdiri karena ia tidak pernah disadarkan tentang siapa dan bagaimana harusnya ia. Ia menjadi besar kepala, berperasaan tinggi, bukan semata karena sifatnya, namun juga pembentukan karakter yang diberi orangtuanya. Kasih sayang yang salah akan menjadikan anak tersesat.

Well, jangankan anak kecil, orang dewasa saja bisa salah karena kebiasaan buruknya yang tidak ditegur. Seperti contoh kasus ibu majikan yang suka menyiksa pembantunya tadi. Kebiasaan buruk tampaknya bisa menimbulkan kecendrungan perangai buruk. Apalagi anak kecil yang mana lingkungan keluarga adalah sekolah pertamanya.

Aku kembali merenungi kata-kata Mama sewaktu aku kecil dulu, kalau salah ya dimarahin. Setuju. Kita tidak akan pernah sadar bahwa kita salah jika kita tidak ditegur. Itu mengapa ada kata-kata bijak yang bilang "marah tandanya sayang."

Ya ya...contoh praktisnya, jika kita tidak suka pacar kita flirting ke cewek/cowok lain, tentunya kita akan menegur ; kita akan marah. Itu karena kita sayang pada pacar kita. Kalau ngga, masa' bodo...ya ngga sih? Apalagi orangtua terhadap anaknya yang katanya kasih sayang orangtua itu sepanjang masa, sangat wajar sekali jika kita para anak dimarahi atas kesalahan kita. Dengan catatan, marah tidak sama dengan marah-marah atau dengan kata lain marah yang mendidik.

Aku ingin belajar marah, marah yang mendidik. Banyak kejadian yang aku tidak marah padahal seharusnya dan sebaiknya aku marah. Selama ini aku bisanya marah-marah, aku ingin bisa marah. Harus! Aku harus bisa mengkondisikannya.

Satu lagi, aku jadi teringat satu cerita. Ada seorang istri yang dicerai oleh suaminya karena kebiasaan waktu gadisnya terbawa-bawa sampai ia sudah menikah dan punya anak. Istri tersebut kerap bangun siang sampai tidak tahu sudah ditinggal pergi kerja oleh suaminya. Mertuanya lama-kelamaan tidak tahan melihat kebiasaanya itu lalu meminta si suami menceraikan. Dari cerita yang kudengar, si isteri semasa gadisnya dibiarkan oleh orangtuanya melakukan kebiasaanya itu dan tidak pernah ditegur ataupun dimarahi karena tidak ingin mengganggu tidurnya. Mungkin si isteri menganggap kebiasaannya itu jadi hal yang biasa padahal tidak untuk orang lain.


Hiiii, aku jadi takut...aku ingin mengubah kebiasaanku yang juga sleeping beauty, tapi poinnya adalah "Marahlah pada Tempatnya."

Opungku adalah orang baik, Eyangku juga orang baik. Marah bukan berarti tidak baik, dan tidak marah bukan berarti baik. Mungkin kita perlu sering menonton dan merenungi kisah-kisah dalam The Nanny 911, karena sebenarnya sangat banyak kasus salah kasih sayang yang terjadi di sekeliling kita.

No comments: